KASIR KITA
Karya : Arifin C. Noer
Editor : Rahman Sabur
RUANG TENGAH DARI SEBUAH
RUMAH YANG MENYENANGKAN BUAT SUATU KELUARGA YANG TAK BEGITU RAKUS. LUMAYAN
KEAADAANNYA SEBAB LUMAYAN PULA PENGHASILANNYA SI PEMILIKNYA SEBAGAI SEORANG
KASIR DISEBUAH KANTOR DAGANG YANG LUMAYAN BESARNYA.
KASIR KITA ITU BERNAMA
MISBACH JAJULI.
SANDIWARA INI KHUSUS
DITULIS KHUSUS UNTUK LATIHAN BERMAIN.
SANDIWARA INI KITA MULAI PADA SUATU PAGI. MESTINYA PADA WAKTU ITU IA SUDAH
DUDUK DEKAT KAS REGISTRASINYA DIKANTORNYA. TAPI PAGI ITU IA MASIH ADA DI RUANG
TENGAHNYA YANG KELIHATANNYA LESU SEPERTI WAJAHNYA.
TAS SUDAH DI JINGJINGNYA
DAN DIA SUDAH MELANGKAH HENDAK PERGI TAPI URUNG LAGI UNTUK KESEKIAN KALINYA.
DIA BERSIUL SUMBANG UNTUK MENGATASI KEGELISAHANNYA TAPI TAK BERHASIL.
Saudara – saudara yang
terhormat. Sungguh sayang sandiwara ini sangat lemah sekali. Pengarangnya
menerangkan bahwa kelamahan cerita ini disebabkan ia sendiri belum pernah
mengalaminya. Ya betapa tidak saudara ? sangat susah !
(TAS DILETAKANNYA)
Saya sangat sulit sekali
sebab istri saya sangat cantik sekali. Kecantikannya itulah yang menyebabkan
saya menjadi susah dan hampir gila. Sungguh mati saudara. Dia sangat cantik
sekali. Sangat jarang tuhan menciptakan perempuan yang sangat cantik. Sebab
perempuan yang model seperti itu hanya menyusahkan dunia. Luar biasa cantiknya
saudara. Bukan main cantik sekali istri saya. Hampir – hampir saya sendiri
tidak percaya bahwa dia adala istri saya.
Saya berani seumpah !
Dulu sebelum dia menjadi istri saya, tatkala saya bertemu pada pandangan
pertama disuatu pesta, berkata saya dalam hati : “ Maulah saya merobek telinga
saya dan saya berikan padanya sebagai mas kawin kalua suatu saat ia mau menjadi
istri saya.” Tuhan maha adil, kemauan tuhan sulit diterka. Sedikit banyak tuhan
suka akan surprise. Buktinya ! Meskipun telinga saya masih utuh toh saya sudah
berumah tangga dengan Supraba selama lima tahun lebih. Aduuuh cuantiknya, saya
berani mempertaruhkan kepala saya bahwa bidadari itu akan tetap bidadari
walaupun ia telah melahirkan anak saya yang no dua. Saya hampir tidak percaya pada
apa yang saya lihat. Tubuh yang terbaring itu masih sedemikian utuhnya.
Cuuuuaaaaaaaaaaantik, ah kata cantikpun tak dapat menyebut kajaibannya. Cobalah
seandainya suatu ketika gadis – gadis sekolah berkumpul dan istri saya berada
diantara mereka. Saya yakin, saudara – saudara pasti memilih istri saya biarpun
saudara tahu bahwa dia seorang ...... janda. (LESU)
Ya, saudara – saudara.
Kami telah bercerai dua bulan yang lalu. Inilah kebodohan sejati dari seorang
laki – laki. Kalau saja amarah itu tidak datang dari kepala, mana mungkin
sebodoh itu saya menceraikan perempuan ajaib itu.
Semua orang yang waras
akan menyesali perbuatan saya, kecuali para koruptor sebab mereka tak mampu
lagi menyaksikan harmoni dalam hidup ini, padahal harmoni adalah keindahan itu
sendiri. Dan istri saya, harmonis dalam segala hal. Sempurna ! (MENARIK
NAFASNYA) Bau parfumnya...! bauanya.....emmmh ! bagai seribu bunga sedap malam
dikala malam, seribu melati disuatu pagi. Emmmh segar !
(TELEPON BERDERING)
Itu dia ! sebentar. (RAGU-RAGU)
Selama seminggu ini setiap pagi ia selalu menelepon. Selalu ditanyakannya
“sarapan apa kau mas ?” kemarin saya jawab “nasi putih dengan goreng otak sapi
sayang !” Emmmh pagi ini saya akan menjawab....???(MENGANKAT TELEPON) “Hallooo
sayang !(ANEH) halo?...halo?...halo?... (MELETAKKAN TELPON, KECEWA DAN MARAH)
salah sambung....!!! Gila ! saya marah sekali. O, ya ! jam berapa sekarang ?
aduh saya sudah terlambat. Maaf saya mesti kekantor, lain kali kita sambung
cerita ini atau datanglah kekantor saya ! PT. Dwi Warna di jalan Merdeka.
Tanyakan disana kasir Jajuli. Maaf sampai ketemu.
(MELANGKAH CEPAT. SAMPAI
DI PINTU SEBENTAR IA RAGU TAPI KEMUDIAN IA TERUS JUGA).
(SEDIKIT LAMA, KASIR
KITA MASUK LAGI DENGAN LESU)
Mudah – mudahan
perdagangan nasional dan perdagangan internasional tidak terganggu meskipun
hari ini saya telah memutuskan untuk tidak masuk kantor. Kalau saudara mau
percaya, hari ini adalah hari pertama saya membolos semenjak enam tahun lebih
saya bekerja di PT. Dwi Warna. Seperti saudara saksikan sendiri badan saya
demikian lesunya, bukan ? Saya rindu sekali kepada istri saya dan saya sedang
ditimpa rasa penyesalan dan saya takut masuk kantor, berhubung pertanggung
jawaban keuangan.
(TELEPON BERDERING)
Sekarang pasti dia
(MENUJU TELEPON) Saya sendiri tidak tahu kenapa selama seminggu ini ia selalu
menelepon saya. Apa mungkin ia mengajak rukun dan rujuk kembali. Saya sendiri
berharap ia kembali dan.... tapi tidak, saya tidak boleh menghina diri saya sendiri.
Bukan saya yang salah. Dia yang salah. Yang menyebabkan peristiwa perceraian
itu bukan saya tapi dia. Oleh karena itu selayaknya dia yang mesti meminta
maaf kepada saya. Ya dia harus meminta
maaf. Toh saya laki – laki berharga, saya punya penghasilan yang cukup. Laki –
laki gampang saja menarik perempuan sekalipun sudah sepuluh kali beristri. Pandang perempuan dengan pasti, air muka
disegarkan dengan sedikit senyum, dan suatu saat pura – pura berfikir tentang
kecantikannya dan kemudian pandang lagi dan pandang lagi, dan jangan sekali –
kali kasar, wajah lembut seperti kita sedang berdo’a. Dan kalau perempuan itu
menundukan kepalanya berarti kita telah menjeratnya.
(TELEPON BERDENRING)
Pasti istri saya
(MENARIK NAFAS) Saya telah mencium bau bedaknya. Demikian wanginya. Demikian
wanginya sehingga saya yakin kulitnya yang menyebabkan bedak itu wangi. Oh, apa
yang sebaiknya saya katakan ? Tidak, saya harus tahu harga diri. Kalau dia
kumaafkan dia akan semakin kurang ajar. Saudara tahu ? Bangsat !
Saudara tahu ? Dia telah
berhubungan lagi dengan pacarnya ketika di SMA ! Ya, saya tidak tahu benar
tidaknya prasangka itu. Tapi cobalah bayangkan betapa perasaan saya.
Suatu hari secara
kebetulan saya pulang dari kantor lebih cepat dari biasanya dan apa yang saya
dapati ? Laki – laki itu sedang ada disini dan bertawa – tawa, denga tertawa –
tawa, ya tuhan..... cemburuku mulai menyerang lagi, perasaan yang luar biasa.
(TELEPON BERDERING LAGI)
Pasti dia (MENGANGKAT
TELEPON) Misbach Jajuli disini, Hallo ? (SEGERA MENJAUHKAN PESAWAT TELEPON DARI
TELINGANYA) Ini ular yang menggoda Adam dahulu, perempuan itu menelepon dalam
keadaan aku begini. Jahannam ! (KASAR) Ya, saya Jajuli ada apa ? Nanti dulu,
jangan dulu kau memakai kata – kata cinta. Dengar dulu ! Kau telah menghancurkan
kejujuranku !, membuat aku gelisah dan takut seperti buronan !
(MELETAKKAN PESAWAT
TELEPON DENGAN MARAH)
Betapa saya marah. Sudah
beberapa puluh ribu uang kantor saya pakai berfoya – foya. Apakah ia mengharap
saya mengangkat lemari besi itu kerumahnya. Gila !
Ya, saudara. Saya telah
berhubungan dengan seorang perempuan beberapa hari setelah saya bertengkar di
pengadilan agama itu, saya tertipu. Uang saya ludes. Uang kantor ludes.
Tuhanku ! Bulan ini
bulan Desember, beberapa hari lagi kantor saya mengadakan Stokopnam. Inilah
penderitaan itu.
(MEMANDANG POTRET DIATAS
RAK BUKU)
Sejak seminggu yang lalu
saya pasang lagi potret itu. Tuhan, apakah mesti menjadi penyair untuk
mengutarakan sengsara badan dan sengsara jiwa ini ? Apabila anak – anak telah
tidur semua, dia duduk disini disamping saya. Dia
membuka – buka majalah dan saya membaca surat kabar. Apabila suatu saat mata
kami bertemu maka kamipun sama – sama tersenyum. Lalu saya berkata lembut
“manis kau belum mengantuk ?” Wajahnya yang menakjubkan itu mengeleng – geleng
indah dan manis sekali. Dia berkata juga dengan lembut “aku akan menunggui kau
membaca koran mas !”. Kemudian kamipun sama – sama tersenyum bagai merpati
jantan dan betina. Kubelai rambutnya yang halus mulus itu. Duh wangiiiiiinya
!!!! Maka segera kupadamkan lampu disini dan lewat jendela kaca kami
menyaksikan pekarangan dengan bunga – bunga yang kabur, daun – daun yang kabur,
dan langit biru bening dimana purnama yang kuning telor ayam itu merangkak –
rangkak dari ranting ke ranting.... (TIBA – TIBA GANTI NADA) hah, saya baru
saja telah menjadi penyair cengeng untuk mengenakan semua itu. Tidak – tidak !
Laki –laki itu .... sebentar.... saya belum menelepon kantor bukan ? sebentar.
(DIANGKATNYA PESAWAT
TELEPON)
Hallo, Hallo ! ......
Saudara Arief...? Kebetulan.....ya, ya... begini. Sudah dua hari ini saya tidak
enak badan....ya, ya....ya, mungkin pula influenza (BATUK DAN MENYEDOT
HIDUNGNYA) Yang pasti batuk dan pilek. Saudara....ya ? .....ya saudara Arief,
saya akan merasa senang sekali kalau saudara sudi memintakan pamit saya kepada
Pak Sukandar....Terima kasih....Ya...Apa ? Saudara bertemu istri saya di sebuah
restoran ? (NADA SUARANYA NAIK) Apa ? Dengan laki-laki ? (MENAHAN AMARAH) Tentu
saja saya tak boleh marah, saudara. Ya...ya...Hallo ! ya, jangan lupa pesan
saya pada Pak Sukandar. (BATUK DAN MENYEDOT HIDUNGNYA LAGI) Saya sakit, ya
pilek. Terima kasih.
(MELETAKAN PESAWAT
TELEPON).
Seharusnya saya tak
boleh marah. Bukankah dia bukan istri saya lagi ? Ah persetan : pokonya saya
marah ! Saudara bisa mengira apa yang terdapat pada hati saya. Saudara tahu apa
yang ingin saya katakan pada saudara ? Saya hanya butuh satu barang, saudara. Ya
benar, saya butuh pistol, saudara. Pistol !! Saya akan membunuh mereka
sekaligus. Kepala mereka cukup besar untuk menjaga agar peluru saya tidak
meleset dari pelipisnya. (NAFASNYA SUDAH KACAU) kalau mayat-mayat itu sudah
tergeletak di lantai, apakah saudara pikir saya akan membidikan pistol itu ke
kening saya ? oh tidak ! Dunia dan hidup tidak selebar daun kelor, saudara !
sebagai orang yang jujur dan jangan lupa saya adalah ksatria, maka tentu saja
secara jantan saya akan menghadap dan menyerahkan diri pada pos polisi dan
berkata dengan bangga dan Heroik : Pak, saya telah menembak Prono citro dan
Roromendut. “Tentu polisi itu akan tersenyum dan kagum capur haru.
Selanjutnya saya akan di
periksa. Ya, diadili. Saudara tahu apa yang hendak saya katakan pada hakim ?
Kepada Hakim, kepada Jaksa, kepada seluruh hadirin akan saya katakan bahwa
mereka pengganggu masyarakat maka sudah sepatutnya di kirim ke neraka. Bukankah
bumi ini bumi Indonesia yang ketentramannya harus di jaga oleh setiap warganya
?
Hakim yang botak itu
akan berkata seraya menjatuhkan palunya : “Seumur hidup Nusakambangan !” Pikir
saudara, saya akan pingsan mendengar vonis semacam itu ?! Oh tidak saudara.
Nusakambangan....!!! Di pulau itu saya hanya membutuhkan beberapa rim kertas
dan pulpen. Ya saudara, saya akan menjadi pengarang. Saya akan menulis riwayat
hidup saya, dan proses pembunuhan itu yang sebenarnya sehingga dunia akan sama
membacanya. Saya yakin dunia akan mengerti letak soal yang sejati. Dunia akan
menangis. Permpuan – perempuan akan meratap.
Dan seluruh warga bumi
akan berkabung sebab telah berbuat salah menghukum seseorang yang tek bersalah.
Itulah rancangan saya.
Saya sudah berketetapan hati. Saya sudah betul – betul siap sekarang. Siap dan
nekat. Oh, nanti dulu. Saya ingat sekarang. Saya belum punya pistol. Dimana
saya mendapatkannya ? inilah perasaan seorang pembunuh. Jenis pembunuh ini
adalah pembunuh asmara. Nah, saya mendapatkan judul karangan itu “PEMBUNUH
ASMARA !” Lihatlah !!! Dunia telah berubah hanya dalam tempo beberapa anggukan
kepala. Persetan...!!! Oooooh .....betapa marah saya, kepala saya.
Saya sekarang merasa
bersahabat sekali dengan Othello. Saudara tentu kenal dia, bukan ? Dia adalah
tokoh pencemburu dalam sebuah drama Shakesspeare yang terkenal. Othello, dia
bangsa Moor sedang saya bangsa Indonesia namun sengsara dan senasib akibat
kejahilan cantiknya anak cucu Hawa.
(TELEPON BERDERING.
SEPERTI SEEKOR HARIMAU IA MENGANGKAT) Itu dia (MENGANGKAT TELEPON DENGAN KASAR)
Hallo..!!! Ya disini
Jajuli !!! Kasir !!! Ada apa ? (TIBA – TIBA BERUBAH) Oh maaf pak...!!! Pak
Sukandar, kepala saya. Maaf pak saya kira istri saya, saya baru saja marah –
marah...... ya, ya memang saya... ya, ya (TERTAWA) ya,.. pak.(BATUK DAN
MENYEDOT HIDUNG) Influensa... ya, ya mudah – mudahan pak.. ya pak.... ya...
Saudara dengarlah dia mengharap saya masuk kantor untuk pemberesan keuangan..
ya .... Insya Allah pak... ada pegawai baru ? siapa ? istri saya, pak
?!(TERTAWA) Ya pak... (BATUK DAN MENYEDOT HIDUNGNYA) Ya pak. Terima kasih pak.
Besok. (MELETAKAN TELEPON)
Persetan..!!!! Saya
yakin istri saya betul – betul kehabisan uang sekarang. Apakah saya mesti
mangasihani dia ? Tidak ! Saya mesti membunuhnya (SEAKAN MENUSUKAN PISAU) Singa
betina ! Ya sebaiknya dengan pisau saja, Pisau....
(TELEPON BERDERING)
Persetan ! Sekarang
pasti dia (MENGANGKAT TELEPON) Kasir disini ! Kasir PT. Dwi Warna !! apa lagi ?
jahanam !!! ular betina yang menjadikan saya koruptor. Jangan bicara apa – apa
!!! tutup mulutmu !!! mulutmu bau busuk !!! (MELETAKAN TELEPON) Jahanam !!!
apakah saya harus membunuh tiga orang dalam seketika. Oh ya, tadi saya sudah
memikirkan pisau. Ya, pisaupun
suadah cukup untuk menghentikan jantung mereka. (GERAM) Sayang sekali....
pengarang sandiwara ini bukan seorang pembunuh sehingga hambarlah cerita ini.
Tapi tak apa, toh saya sudah cukup marah untuk membunuh mereka. Namun sebaiknya
saya maki – maki alisnya yang nista itu. Saya harus meneleponnya !!!
(MENGANGKAT TELEPON)
Kemana saya harus
menelepon ? Tidak ! (MELETAKAN TELEPONNYA) Demi Allah, saudara mesti mengerti
perasaan saya. Bilanglah pada istri saudara – saudara “ manis, jagalah perasaan
suamimu, supaya jangan bernasib seperti Jajuli.” Ya, memang saya laki – laki
yang malang, tapi semuanya sudah terlanjur. Saya pun telah siap. Dengan menyesal
sekali saya akan menjadi seorang pembunuh dalam sandiwara ini.
Bulan berkabut, udara
beku oleh dendam, sementara belati telah siap tesembunyi di pinggang, saya
ketuk pintu serambinya.
Mereka pasti terkejut,
lebih – lebih mereka terkejut melihat pandangan mata saya yang dingin,
pandangan mata seorang pembunuh.
(TIBA – TIBA PENING KEPALANYA) Tapi kalau
sekonyong – konyong muncul kedua anak saya ? Ita dan Iman, dan mereka
berkata-kata “ (Pak, jangan bunuh ibu Pak ) 2x ?” (MEMUKUL – MUKUL KEPALA)
Tuhanku !
(DUDUK DIA MELAMUN – DUA
ORANG ANAKNYA, ITA DAN IMAN, 5 DAN 4 TAHUN MENARI – NARI DISEKELILINGNYA, DI
TENGAH RUANG TENGAH ITU DENGAN SEBUAH NYANYIAN KANAK –KANAK, BUNGAKU)
Saudara – saudara bisa
merasakan hal ini ? Saya tidak tahu lagi apakah istri saya cantik atau tidak ?
Saya tidak mau tahu lagi apakah laki – laki itu jahanam apa tidak ? Saya hanya
tahu anak – anaku.Tak ada yang lebih mutlak harus dipertahankan kecuali anak –
anak itu. Saudara – saudara mengerti maksud saya, apakah hanya karena cemburu
saya mesti merusak kembang – kembang yang tengah bermekaran itu.
(MALAIKAT – MALAIKAT KECIL ITU GAIB MENJADI
UDARA)
Saya harus pergi
kekantor. Akan saya katakan semuanya pada Pak Sukandar. Saya akan mengganti
uang itu setelah besok saya jual beberapa barang dari rumah ini. Setelah
semuanya beres saya akan memulai lagi hidup dengan tenang dan tawakal pada
tuhan. Hari ini hari Jum’at, dimesjid setelah sembahyang saya akan minta ampun
kepada Allah.
(TELEPON BERDERING)
Jahanam ! kalau saudara
mau percaya, inilah suddal itu.
(MENGANKAT PESAWAT TELEPON)
Ya, Misbach Jajuli
(TERSIRAP DARAHNYA). Saudara, jantung saya berdebar seperti kala duduk diatas
kursi pengantin. Demi tuhan, tak salah ini adalah suara istri saya. Oh, saya
telah mencium bau bedaknya. Saya akan mencoba menyingkap kenangan lama. Hallo
?..... kenapa kau tidak menelepon tadi ?... ya, kekantor bukan ? memang saya
agak sakit (AKAN BATUK TAPI TAK JADI) Ya ?..... manis, kau ingat laut pantai,
pasir, tikar, kulit – kulit kacang......ah indah sekali bukan ?
Bagaimana ? ...... kawin
? ..... kau ? ....... segera ......lihatlah niat baik tidak mudah segera
terwujud. Apa ?....... apa ? ..... hah ??? saudara, gila perempuan itu. Apakah
ini bukan suatu penghinaan ? dia mengharap nanti sore saya datang kerumahnya
untuk melihat calon suaminya itu cocok atau tidak baginya. Gila....!!! ya,
tentu.....bisa !!!
(MELETAKAN PESAWAT
TELEPON DENGAN KASAR)
Jahannam. Saudara tentu
merasakan apa yang ku rasakan. Beginilah, kalau pengarang sandiwara ini belum
mengalami peristiwa ini. Beginilah jadinya, saya sendiripun jadi bingung untuk
mengakhiri cerita ini (TIBA – TIBA) Persetan !!!!! persetan pengarang itu !!!!
jam berapa sekarang ? persetan semuanya !!!! yang penting saya akan kekantor.
Dari kantor saya langsung kemesjid. Dari mesjid saya langsung kerumah mertua
saya. Langsung saya boyong semuanya. Anak – anak itu menanti saya. Persettan
!!! sampai ketemu. Selamat siang.
(MELANGKAH SERAYA
MENYAMBAR TASNYA. TIBA - TIBA BERHENTI. SETELAH MENGELUARKAN SAPU TANGAN DAN
BATUK DAN MENYEDOT HIDUNGNYA)
Saya influensa, bukan ?
SELESAI
............................
Diketik ulang oleh :
Dian Lugina
Telepon : 085723555878
Email :
akhewhafiezd@yahoo.com &
dl_gta@yahoo.com
Mahasiswa Jurusan Teater
STSI Bandung
Posting Komentar