ATAS NAMA DOA
atawa SENYUM LASTRI
Karya: Lintang Ismay
RUANG PENJARA. PESAKITAN TAMPAK
TIDUR SEPERTI ANJING. DARI ATAS LANGIT-LANGIT JATUH BUKU DAN BOLPOINT MENIMPA
MUKANYA. TERDENGAR SUARA SESEORANG
Besok, hari terindahmu,
--menghadapi duabelas regu pasukan tembak. Tulislah biografi hidupmu, biar
semuanya jelas. Siapa tahu kau jadi figure yang fantastic bagi generasi
mendatang? ORANG ITU TERTAWA.
PESAKITAN BANGUN SECARA
PERLAHAN-LAHAN. MELIHAT SEKITAR. MELIHAT KE ARAH SUMBER SUARA. MENGAMBIL BUKU
DAN BOLPOINT. PESAKITAN TERTAWA LEPAS. BERNYANYI-NYANYI RIANG. SEPERTI
MENULISKAN SESUATU DI DALAM BUKU TERSEBUT.
Seseorang datang dan pergi di
kehidupanku. Seperti angin waktu yang kerap menyimpan ribuan rahasia. Begitulah
adanya hidupku. Aku terbentuk. Terpatok. Terpenjara. Terkontaminasi.
Terseok-seok. Menjadi sesosok diriku. Lahir dan tumbuh, sampai akhirnya
terpatri di tempat ini.
BANGKIT. MENCARI PUNTUNG ROKOK
DAN MENYALAKANNYA. MEMAINKAN ASAPNYA. TERTAWA. MENARI-NARI KECIL BAK BALERINA.
Sejarah. Yap. Semua orang pada
akhirnya sama; saling berebut tentang sejarah. Menuliskannya pada lembar demi
lembar buku sejarah. Tanpa peduli ada yang membacanya. Bahkan tidak menutup
kemungkinan, hanya dibaca oleh diri kita sendiri.
SEPERTI MENDENGAR SUARA.
Apa? Yap. Benar. Pendapat anda
benar sekali? Bukankah di hadapan Sang Pencipta, yang kita sodorkan dan
diperiksa adalah lembar demi lembar sejarah hidup dan kehidupan kita? Itulah
fungsinya malaikat, sebagai asisten kita yang dianugrahkan dari Sang Pencipta.
HENING SEJENAK. TIBA-TIBA SEPERTI
MENGAMUK
Asu. Bangsat. Apa peduliku dengan
dogma-dogma? Ketika lonceng gereja berbunyi, tak ada lagi biara-biara suci. Tak
adalagi nyanyian koor. Ketika gema adzan berkumandang, tak adalagi kiai yang
membawa santri-santinya untuk berjamaah.
LANTANG SUARANYA Aggggggggggh,…
EMOSINYA MENINGGI. Ibuku, baru saja satu hari meninggal, bapaku sudah kawin
lagi. Aku dan adikku ditendangnya dari rumah. Agama. Apa yang aku dapat dari
pemahaman nilai-nilai religious yang ditanam sejak kecil oleh ibu dan bapakku?
Sementara kelakuan bapakku tak ubahnya anjing!
SEPERTI MENDENGAR ORANG
BERBICARA. LIRIK KANAN LIRIK KIRI. KEPALA DAN TUBUHNYA BERPUTAR-PUTAR.
SUARA-SUARA ITU SEMAKIN TAJAM MENGHUJAMI PIKIRANYA “KASIH INSPIRASI MUSIK”.
Diam! Tidak! Aku tidak sensitrif?
Tapi aku bernbicara fakta. Jangan menghakimi aku begitu rupa? Ini urusan
pribadiku. Apa hak kalian? Kalaulah ayah dan ibu tiriku Mati ditanganku, bukan
semata-mata alasan klise, balas dendam. Tetapi ini murni sebagai bahasa nurani.
Aku tidak bersekutu dengan setan! Kasihan dong iblis, jadi kambing hitam terus?
Ini naluriku untuk bertindak
KEPADA PENONTON. KEPADA
ORANG-ORANG YANG ADA DALAM IMAJINASINYA.
Wah kacau rupanya kalian tidak
hatam dengan doa? Doa itu perbuatan. Doa itu keinginan. Doa itu angan-angan.
Doa itu harapan. Doa itu tingkah-laku kita. Itulah kemurahan Sang Pencipta,
atas hidup kita?
SEPERTI MENDENGAR SUARA-SUARA
YANG MENGHUJAT. MENUTUPI TELINGA BERPUTAR-PUTAR. GELISAH.
Stop. Stop. Kenapa kalian jadi
membela bapak dan ibu tiriku? Tindakan dan keinginanku beda benar dengan
perbuatan bapak dan ibu tiriku. Bapak dan ibu tiriku kawin, adalah keinginan
setan bukan doa. Kalau aku barulah doa,… ,… ,… Lho. Lho kenapa kalian bergembira
dengan mentertawakanku? Apa kata-kataku salah? Hak azasi dong? Prerogative
dong? Kreatif dong? Inovatif dong? Ah,… kalian bisanya tertawa melulu, benci
dech aku? Sebel dech aku, muak-muak, muaaaaaaak tahuuuu?
TIBA-TIBA DIA MENANGIS “SUASANA
MUSIK DAN LAMPU IKUT MENGIRINGI KESEDIHAN HATINYA”.
Tak ada yang lebih mulya dari
hati seorang ibu. Ibu adalah tetimang kita di kala kita sedang dibenturkan
masalah. Ibu adalah satu-satunya sorga dalam kehidupan dunia. HENING. Aku
pernah mukim di sebuah pondok, mendalami nilai-nilai religius. Dimana betapa
mulya posisinya seorang ibu bagi kita. Kalian tahu? Hei,… KEPADA PENONTON.
Kalian tahu tidak? Kalau tidak tau, makanya dengarkan! Kalau sudah tau, seguru
seilmu makanya jangan saling mengganggu ok? Sebab ini adalah sesuatu yang
sakral, maka aku harus berdoa dulu.
MULUTNYA BERKOMAT KAMIT SEPERTI
SEDANG MERAJAH.
Berapa literkah susu ibu yang
terhisap dan diminum oleh kita? Berapa kotoran kitaklah yang terkecapkan dan
termakam oleh ibu kita? Ketika ibu kita sedang makan? Dan kita menangis karcena
pipis atau boker? Ibu berhenti dari makannya. Melayani kita. Lalu ibu
melanjutkan makanya. Ih,… gak kebayang dech betapa joroknya kotoran kita
termakan oleh ibu kita? SUARANYA MENINGGI. Aku tidak mau disebut durhaka. Aku tidak
mau dibilang jadah. Aku tidak mau mengamalkan aji air susu dibalas dengan air
tuba. Itulah sebabnya, kenapa aku membunuh bapak dan ibu tiriku sekaligus.
Bukan semata-mata gelap mata, melainkan aku anak sholihah! Untuk saat ini
kalian boleh tertawa atas penjelasanku. Sebab kalian tidak pernah mengalami hal
sepertiku. Doaku pada kalian; cepat-cepatlah kalian mengalami kisah sepertiku,
biar tau mana hitam, mana putih, mana yang namanya abu-abu. HENING. Pada suatu
malam nan lembab, panjang dan dingin. Ketika seakan-akan benda-benda yang ada
dihadapanku bergoyang. Atas kabar kematian ibuku, aku mendengar, aku melihat
seulas senyum tersungging dari bibir bapak yang tebal, berlapis nikotin. Aku
tak paham, tentang sesunging senyum itu, apakah ia berusaha menenangkan
pikiranku? Aku bukanlah orang baik, tapi aku berusaha menjadi baik. Di luar
sepengetahuan bapak dan ibuku; aku adalah pencadu narkoba, peminum
minum-minuman keras, sesekali aku main permpuan dan judi, sebagai tambahanya.
Jalan hidup yang aku tempuh, bagiku adalah wajar dan syah untuk dilakukan,
sebab hidup adalah pilihan bukan? Seperti kedua orang tuaku yang memaksaku
harus kuliah, demi sebuah prestisius di kehidupan bermasyarakat. Dan
keinginan-keinginan yang bergejolak di kedalaman dada ini, adalah fitrahNya
yang diberikan pada kita? Kalian boleh lho mencontoh dan meniru atau menjadi
imitasiku? Atau meniru hidup seperti ibuku? Ibuku lahir dari keluarga
terpandang, displin ilmunya tinggi, pemahaman nilai-nilai religiousnya sangat
mantap. Kekayaan orang tuanya tak tertandingi di kota ini. Namun itu semua
tidak menjadikan sosok ibu lupa pada nilai-nilai nas Sang Pencipta. HENING.
Sedang bapaku, lahir dari kalangan strata sederhana. Ia adalah sopir pribadi
ibuku, dikala ibuku masih perawan. Entah kenapa, siapa yang memulai, siapa yang
menanamkan benih-benih cinta di hati mereka, posisi majikan dan pembatu,
--berubah gembira: menjadi pasangan suami istri. Sampai akhirnya aku terlahir
sebagai anak pertama, yang memilih hidup di jalur generasi koplo. Lima tahun
berselang; lahirlah adiku satu-satunya. Adikku berjenis kelamin perempuan.
Kecantikanya, sama seperti ibuku. Untungnya bibir adiku tipis. Tak kebayang
kalau bibirnya tebal sepeti bapaku? Pasti adikku akan disebut sibibir jeding
olehku? HENING. Aku sangat menyayangi adiku. Kemanapun ia pergi, aku kerap
berada disampingnya. Walau awal-awal kelahiranya; aku sangat dibikin cemburu,
sebab ibu dan bapaku jadi lebih perhatian pada dia. Adikku bernama Lastri
Kinasih. HENING Kata ibuku: Lastri diambil dari kata lestari dan Kinasih
diambil dari kata
KEPADA PENONBTON
Apa coba? Nah. Betul! Seratus,
tus, tus,… dari kata kasih. Dimana penjabaran ibuku selanjutnya; Lastri
Kinansih adalah sifat Sang Pencipta yang selalu menggabulkan doa-doa kita?
Terutama doaku yang telah dikabulkaNya, --atas pembunuhan bapak dan ibutiriku.
Betapa indah kasih Sang Pencipta. Betapa nikmat kepercayaan Sang Pencipta yang
dibebankan di pundakku; aku bertindak sebagai algojoNya, untuk mencabut nyawa
bapak dan ibu tiriku sekaligus dalam hari itu juga. HENING. KETAWA Lastri kecil
perlahan-lahan tumbuh menjadi bunga desa. Kencantikanya harum mewangi,
--menjadi momok sekampung. Sempat beberapa kali, Lastri hendak menjadi korban
pemerkosaan, tapi untunglah aku kerap memergokinya. Bukan hanya hendak
diperkosa oleh teman-temanya. Orang asing. Bahkan bapaku sendiri. Sejak saat
itu, naluriku untuk membunuh tumbuh secara diam-diam; semua laki-laki yang
mencoba melakukan tindak kriminal pada Lastri, tak ada yang selamat di
tanganku; aku habisi nyawa mereka. Aku membunuhnya. Lastri tahu semuanya, namun
Lastri diam. Dia tidak melaporkanku pada yang berwajib. Bahkan, ketika aku
memergoki bapak mau memperkosanya, Lastri membela bapaku: “mas jangan sampai
ibu tau tentang hal ini. Cukuplah kita saja yang tahu, kasian ibu. Pasti ibu
syok berat mendengarnya? Lastri mohon sekali lagi padamu mas, Lastri mohon,
bapak kita jangan kau bunuh, seperti lelaki-lelaki lainya?” Begitulah
permohonan Lastri padaku. HENING. Detik jam, mendorong usia bumi. Bunga-bunga
layu di mata. Usia dimakan masa. Ketika cinta sedang menuju puncaknya, kami
sekeluarega tak bisa memandang dengan jernih. Kematian ibukulah, pangkal dari
semua ini. Lastri syok atas kematian ibu. Jangankan Lastri, aku sendiri pun
mewek termehek-mehek, --tato, anting dan rambut gimbalku, tak bisa menahan air
mataku yang jatuh di hadapan jasad ibuku. HENING. Satu hari kemudian, dari
kematian ibuku; barulah bapaku menikah kembali, Lastri kian defresi, sering
tertawa sendiri, mukanya garang. Sesekali terlihat sendu.
MENITIKAN AIR MATA. HENING.
Hari berikutnya, setelah kami
dikenalkan dengan ibu tiri kami; bapakku mengusir kami, dengan alasan tak ada
hak waris untuk kami. Yang lebih menyakitkan, bahwa kami bukan darah dagingnya?
Itulah sebabnya mengapa bapak berani melahirkan tindakan pemerkosaan pada
Lastri?
BANGKIT. BERANG. SEPERTI MENCEKIK
LEHER BAPAKNYA.
Bangsat. Asu. Jancuok. Orangtua
biadab. Leher bapakku, aku cekik sekuat tenaga; namun adiku berteriak, bangkit
dari duduknya: “ingat mas, mungkin ini sudah jalan takdir kita? mesti mas
pernah bercerita tentang proses kelahiran kita yang sama keluar dari rahim ibu
kita dan lelaki yang dihadapan kita saat ini, --selama ini, kita menyebutnya
bapak kita? Bisa jadi, perkataan lelaki ini, benar adanya?” HENING. Dengan berat
hati pikir dan rasa; hari itu juga, kami meninggalkan rumah besar ala
arsitektur belanda. Kata almarhum ibuku, rumah itu sebagai hadiah perkawinan
dari kedua orang tuanya yang kini sudah sama-sama tidur tenang di kedalaman
tanah bersama ibuku. Kami tidak mengetahui alasan yang pasti, mengapa rumah itu
jadi hak milik bapaku? Terlebih-lebih lagi, ketidakmengertianku; mengapa kami,
tidak mewarisi darah daging bapakku? Apkah mungkin lelaki yang kusebut bapaku
itu mandul? Lalu siapa bapak kami yang sebenarnya? Malam itu, bagi kami laksana
kawah luka. Figure Bapak yang tegas. Sosok ibu yang nyantri, semuanya lenyap,
ditelan duka raya. Tak ada kebanggaan dengan nilai-nilai. Kami berjalan
menyusuri jalan hitam, melewati hutan lambang. Tiba dipersimpangan, tiga
kelokan dari kost, di dekat tempatku kuliah: sambil istirahat; Lastri membuka
percakapan “mas, mungkin ini sebabnya, mengapa ibu mau menikahi bapak,
--padahal bapak sopirnya ibu? Adakah ibu kita sebinal itu, hamil diluar nikah,
sebelum kawin dengan bapak? Dan kau mas, bukan anak bapak? Pun demikian aku,
bukan anak bapak pula, lantas siapa bapak kita sebenarnya mas? Adakah lelaki
yang dianggap bapak kita selama ini, adalah penutup aib ibu kita? Bukankah dia,
dulunya sopir ibu kita? Dan rumah itu adalah pil tutup mulut buat lelaki yang
selama ini kita anggap sebagai bapak?” Aku tak bisa menjawabnya dengan tegas,
nyaris tak ada jawaban, selain suara nafasku, kian tak terpacu degupnya. Bahkan
saat itu, aku takut dengan suara nafasku sendiri. “mas, kau masih ingat, ketika
bapak mau memperkosaku? Waktu itu, kau hendak membunuhnya demi kehormatanku,
namun aku melarangnya untuk kau habisi? Kini sudah jelas semuanya, bahwa dia
bukan bapak kita. Mas, mengapa tidak kau bunuh saja dia sekarang?” Mendengar
pemaparan berikutnya, naluri membunuhku gairah kembali, dalam hatiku, aku
menyanggupi keinginan adiku itu. Satu minggu kemudian, tanpa sepengetahuan
Lastri, aku membunuh bapak dan ibu tiriku.
BEREKPRESI MEMPRAKTEKAN MEMBUNUH.
Agh,… agh,… dengan tujuh kali
tusukan yang tepat mengena, di arah jantung bapak, bapak mati dengan belati.
Sedangkan ibu tiriku, aku tebas lehernya dengan golok, sampai putus. Aku sudah
terbilang professional untuk membunuh, tak ada jejak yang aku tinggalkan untuk
di dengus polisi. Semua berjalan lancar dan sempurna; sampai aku kembali ke
rumah kostanku di kota; tak satupun yang tahu, bahwa akulah pembunuhnya,
termasuk Lastri. Tiga hari dari sana, orang sekampung digegerkan dengan bau
bangkai yang tidak lain dari rumah kami. Tetangga yang tau tempat kami
bermukim, memberitahu kami; bahwa kemungkinan besar, --berdasarkan penyelidikan
polisi, rumah orangtua kami kemasukan rampok. Memang benar, disamping aku
membunuh mereka; aku pun merampoknya, yah,… lumayanlah, untuk bekal kami hidup
di kota. Wajarkan? Anak yang dibuang gitchu lho? Sampai penyelidikan polisi
usai. Sampai kami kembali kerumah tersebut. Lastri tidak tau, bahwa itu semua
atas perbuatanku yang mengabulkan doanya. “Sang Pencipta telah membalaskan
dendam untuk kita Lastri?” Itu kata-kata terindah yang keluar dari rahim
mulutku, untuknya. Lastri tak berkomentar. HENING. Hari melipat hari. Gulungan
ingatan. Detik jam mengubah segalanya; aku melihat Lastri kian seperti aku.
Perangainya yang lembut mirip kebijakan ibu dalam berbagai hal; berubah total
menjadi 180 derajat, aku heran, apa yang harus aku larang, sementara ucap dan
lakuku pun bukan contoh yang baik bagi Lastri? Sempat aku berfikir, adakah aku
dan Lastri, mewarisi darah psikopat, darah pemberangus, darah pemabuk, darah
Dracula dari ibu atau bapak kandungku yang asli, berdasarkan cerita lelaki itu,
yang selama ini kami anggap sebagai bapak kandungku sendiri? Entahlah. Kini
Lastri suka mabuk-mabukan, tak ada lagi ayat-ayat kauniah yang keluar dari
mulutnya, bila menjelang senja. Lastri jadi rakus. Liar. Ganas. Serta sudah
lupa antara hubungan darah, sampai akhirnya kami melambang sari. Di sisi lain,
kali pertama kami melakukan gituan, ada perasaan tak nyaman. Yah, takut-takut
gitu dech, gelisahnya seperti kali pertama aku membunuh, tapi kesininya jadi
ketagihan lho? Iiiih,… gereget dech aku: gereget, geret dan gereget,… banget,
---bila Lastri mualai merajuk. SADAR. Oh, hampir saja lupa: di sisi lain, aku
punya kebanggan tersendiri, --sebagai naluriku seorang laki-laki; aku merasa
bangga bisa menjebol gawang perawan bunga desa.
MEMPERAKTEKKAN SENGGAMA. HENING.
Di malam yang lain setelah pesta
koplo yang dibasuh nafsu purbawi, sebagai kesempurnaan pesta. Tanpa sadar, aku
bercerita pada Lastri, bahwa akulah yang telah menmbunuh bapak dan ibu tiri
kami. HENING. Pagi hari nan bening, ketika kicau burung dan hangat mentari
menyapa seluruh penghuni bumi bagian timur, bukan barat. Ketika aku sedang
terlelap tidur, lagi asyik-asyiknya bermimpi dengan bidadari; sepasukan polisi
mengepung rumah kami dan aku ditangkapnya. Tak ada celah untuk aku meloloskan
diri dari kepungan polisi. Di beranda rumah, ketika tanganku lemah dalam
borgol; aku lihat, sesungging senyum seorang lelaki, yang selama ini kami
anggap bapak, mekar dibibir Lastri. Apakah ia berusaha menenangkan pikiranku?
BERTERIAK. Agh,… bajingan kamu Lastri. Kau khianat. Bangsat! Bukankah semua
kematian mereka, atas keinginan doa-doamu selama ini? Bedebah! Jancuok!
***101208***
________
Catatan: teks dalam naskah ini
bisa dirubah oleh si penggarap, --dengan tidak mengurangi benang merahnya.
____________
lintang Ismaya, salah satu nama
pena dari sembilan nama pena yang dimiliki oleh Doni Muhamad Nur. Lahir di
Tasikmalaya pada tanggal 01 Oktober 1979. Alumni STSI bandung pada jurusan
teater. Masih membujang. Puisi, cerpen, laporan reportase, esai, kritrik seni
yang ditulisnya tersebar di berbagai media cetak, baik terbitan lokal, daerah
maupun nasional. Disamping itu, ia juga menulis novel, naskah sinetron dan
film. Sesekali menyutradarai teater, videoclip dan sinetron
Posting Komentar