AKSIOMA
Karya Taufan S. Chandranegara

Dramawan      1. Aktor (Lelaki/Perempuan)

Pendukung      1. Kameraman dan Perangkatnya
                        2. Sutradara

Catatan Visual : Dalam naskah ini, diperlukan perangkat multimedia. Naskah ini dibuat dalam bentuk  stage film/life video on stage. Diperlukan imajinasi tanpa batas, kontekstual dalam term of moralism.

Tahun              : Maret 2004

SCENE 01:
(Track In- Shot Number:01)

            Sebuah bibir. Senyum. Beragam rupa dalam hati Sang. Entah siapa dia. Entah. Persoalannya bukan tersirat atau tersurat. Saudara paham maksud saya? Tidak?! Pasti tidak. Anda pasti menduga tentang sebuah hati yang terluka atau cemburu, membara, pedih, gembira, suka, duka, nestapa, lara, ceria, nostalgia, birthday, valentine, atau berhubungan dengan hal-hal yang bersifat positif-negatif. Hahaha…. Sangat konservatif, kalau hanya itu. Kuno, bodoh, tidak cerdas. Atau, saudara menduga hubungan: Bibir dan hati. Umumnya terkait dengan inner-mind Anda, orang, massa. Tidak!? Atau, saudara menduga: sebuah bibir, senyum. Berhubungan dengan tren iklan, hahahaha… hamper, mirip, tapi bukan itu, saudara. Lalu apa? Saya juga ingin tahu. Kenapa? Karena saya juga sedang menduga. Diagnosis apa yang kira-kira tepat untuk itu.
            Kalimat diagnosis tidak Cuma digunakan dalam kalangan medis saja, kan? Khususnya disiplin kedokteran. Kalau dokter sekolah bertahun-tahun, kemudian hanya pandai mendiagnosis. Karena itulah maksimalisasi dari keilmuannya. Tetapi, tetapi, tetapi, jika kita kembali hubungkan dengan: Sebuah bibir, senyum. Perlukah kita memakai alibi”diagnosis”?
            Apa jawab Anda yang duduk di belakang sudut sana. Saudara, siapa pun Anda, punyakah jawabannya? Akh, betul sekali. Apapun jawaban pada hari ini harus dikategorikan jawaban tentang “Benar”. Kenapa? Karena kita harus kembali kepada “Diagnosis”. Kenapa begitu? karena diagnosis kita hidup. Karena diagnosis hiduplah: Trust, Image, Brand, Product, Knowledge, Awareness. Kemudian puncak dari itu semua menjadi the people tobe awareness. Kemudian bangkitlah the people to be community and they get the goal. Gol, Saudara, saudara, gol. Saya. Anda. Kita. Kami. Hidup dalam komunitas massa yang ujung-ujungnya get the goal. Yes. Gol. Gol. Gol saudara bukan gol saya. Gol saya bukan gol Anda. Gol kita akibat individu dalam komunitas dan gol kami akibat bentukan komunitas dari individu-individu.

SCENE 02:
(track Out – Shot Number:02)

            Hahaha…. Kembali pada: sebuah bibir. Senyum. Sampailah orasi saya pada kalimat “Individu”. Perlu digaris bawahi. Kenapa? Karena enak dibaca dan perlu. Artinya sangat penting. Kalimat itu tak sekedar happening. Sesaat, lalu musnah ditelan masa.  Bukan itu. Karena saya sebagai individu dan Anda, saudara-saudara sekalian, sebagai individu tentulah memiliki watak yang berbeda satu dan lainnya. Maka heterogenlah kita, majemuk, beragam, ramai dipandang dan perlu. Kenapa? Karena saudara-saudaralah The People. Bukan The Police atau The Beatles. Karena masa mereka sudah lewat, masa berganti dengan masa, pada kurun waktu yang pasti. Jadi pergantan kurun waktu itu pasti, tak ada kalimat tengahnya dan, atau, mungkin, kalau karena.
            Alam semesta ini tercipta karena kepastian. Pasti. Dalam mengolah hidup, saudara ataupun saya rasanya. Saya mencoba kembali pada kalimat diagnosis, maka hanya ada: “Ya dan Tidak”. Kenapa? Karena kita lahir dan dicipta dengan keterbatasan kita sebagai mahluk indiividu yang kemudian membentuk masyarakatnya untuk meng-create dan mengolah hidup bersama individu-individu.
            Lalu lahirlah: hak-hak serta kewajiban-kewajiban bersamanya. Kemudian eksislah the rule of law. Sebagai individu, bermasyarakat, akibat dari etiket dan tingkah laku. Sebab: jika individu lebih dari satu kali mengatakan kebenaran, sebenarnya individu itu sedang meng-create kebohongan.
            Itu sebabnya perlu aturan moral dalam sebuah komunitas atau masyarakat. Meski dalam perkembangannya ada sebuah system, di satu masyarakat, hak dan kewajiban makin absurd keberadaannya.

SCENE 03
(Track, Circle – Shot Number:03)

            Sebuah bibir, senyum. Anda pasti menunggu-nunggu jawaban dari yang satu ini. Cobalah Anda sedikit santai. Kendurkan seluruh pusat syaraf, atur napas sesuai kebutuhan. Jangan dipaksakan. Focus tapi santai, relaksasi. Cobalah. Kalau tidak, Anda takkan pernah menemukan jawabannya. Sebagai contoh (sesaat, memberi contoh). Seperti yang baru saja saya lakukan tadi, saya bisa Andapun bisa.
            Lakukan. Lakukanlah sekarang. Percayalah, kualitas nomor satu, relaksasi. “Terpercaya” Hi hi hi…. Sering kali kita mendengar kalimat bodoh macam itu kan? “Terpercaya”. “Berkualitas”, “Nomor Satu”. DLL….DLL…DLL! celaka betul saudara. Saya, saudara. Saya. Saudara. Bahkan, sebuah masyarakat menjadi target komunikasi macam itu. Kok mau? Jadi, siapa yang kehilangan akal sehat sekaligus moral, serentak. Anda. Saya. Hilang kendali, focus, gegar budaya, lupa ingatan, gila. Hysteria missal yang aduhai bagi mereka sang profit oriented, melihat target market yang marketable. Pemasaran yang sahih, melibatkan seniman: kontemporer, modern, absurd, hipperrealis, tekno mania, hip-hop, R&B, rock, dangdut, soul, punk, surealis, ekspresionis bahkan kaum politikus, cendekiawan, budayawan, sastrawan, wiraswastawan, usahawan, wartawan, ilmuan, perangkat keamanan.
            Seru. Seru sekali. Berderu., bising, screaming, digital audio, digital lighting, digital camera, animasi, manipulasi, system computer, satelit. Global. Ya, global. Semua terlibat dalam eskalasi komoditas komunikasi.
            Seru. Sangat seru. Lalu sebuah generasi ditanya oleh sebuah generasi. Siapa anak Bima? Gatotkaca atau Superman? Hihihi… jawab sebuah generasi, dengan tergagap: “Superman!” Hihihi….lalu, sebuah generasi bertanya lagi pada sebuah generasi: Siapa Kurawa dan Pandawa? “Doraemon!” sebuah generasi bahkan menempatkan “Doraemon” sebagai si bungsu dari keluarga Pandawa dan Kurawa hihihi…. Saya tertawa karena saya sendiri tidak tahu siapa saya hihiihi….

SCENE 04:
(Track, Medium Circle – Shot number: 04)

            Jadi Saudara. Habit. Sebuah bibir, senyum. Tak selalu seperti yang saudara atau saya duga. Karena sebuah bibir, senyum. Sulit diduga maknanya. Dia, bibir itu dan senyum itu amat bermakna, bahkan multi-exposure makna. Jika saja Anda bertindak sebagai aktor, seperti saya berlagak jadi aktor, misalnya…hm…hm… (memeragakan sesuatu). Kenapa tidak. Sah, kan. Sebagai: sah. Sah. Sah. Bahkan. Sebagai: sah. Sah. Sah. Cukup. Sampai disitu saja. Anda tinggal pilih jadi plagiator atau berlagak actor seperti saya. Mudah dipakai, irit dan ekonomis. Pilih. Silahkan pilih. Murah. Obral besar. Discount up to one hundred percent! Tak mungkin. Pasti tak mungkin. Mana ada yang mau rugi. Semua diskon sudah dihitung, kongkret dan akaal. Nah, kembali pada inti yang saya bicarakan tadi. Sebaiknya kita kembali melihat sebuah proses akumulatif dari yang terakumulasi dari sebuah sistem.
            Rangkuman dari hasil yang bersistem diformulasi kemudian dirujuk menjadi random sampling, agar pola yang Anda maksud masing-masing sebagai anggota masyarakat yang berdaulat, tak sekedar menjadi makna-makna. Tapi ujud. Nah, di sini letak dari eksis dan eksaknya persoalan yang sejak tadi saya bicarakan.
            Sebagai contoh: perbedaan. Sah. Sah. Sah. Dengan. Sah. Sah. Sah. Anda pasti tahu letak konkretnya dari perbedaan itu. Ya, kan? Hehehe…. Jangan pura-pura tidak tahu. Pasti Anda tahu. Karena kejadian itu dilakukan sehari-hari oleh mahluk hidup yang berakal seperti kita, dan yang tidak berakal, binatang  tentu saja.

SCENE 05:
(Big Close Up – Shot number: 05)

            Haaaaacchhh!!. Barangkali itu aum seekor harimau yang kalah. Haaaaacchhh!. Barangkali itu ringkik kuda meradang birahi. (menunjukkan seringai giginya). Itu tadi gigi saya. Mana gigi Anda. Kalau memang anda mahluk normal seperti saya, pasti Anda punya gigi. Mana? Lho. Lighting! Coba kepada mereka yang berani berdiri dan menunjukkan seringai giginya. Hihihi…. Siapapun Anda, berdiri atau tidak, menyeringai atau tidak, bukan urusan saya hehehe…. Yang terpenting dari semua yang saya lakukan, essensinya adalah menguji perbedaan kentut binatang dan manusia.
            Kalau membaui kentut mahluk manusia, itu kan biasa. Tapi membaui kentut mahluk binatang kan agak langka. Meski ada mahluk manusia yang bekerja di kebun binatang, belum tentu dia mencium kentut binatang secara berkala. Kecuali, barangkali, mahluk manusia pencinta binatang. Tapi apakah semua mahluk binatang kentut? Masih harus dibuktikan. Itu salah satu yang dimaksudkan dengan eksis dan eksaknya ujud. Jika essensi: sebuah bibir, senyum. Masih menjadi Tanya berpola di kepala Anda. Nah.

SCENE 06:
(Establish Shot – Shot Number: 06)

            Itulah tadi, saudara, contoh untuk sekedar akting di layar kaca (menyeringai giginya), semoga bermanfaat, bagi saudara yang berminat menjadi binatang, meski tak menjadi aktor, karena saya hanya bergaya seperti aktor, saya the new star’s is born, demikian.
            Sudah dicatat. Lho. Ini penting lho. Oke. Anda tidak ingin mencatat. Mencatat atau tidak, bukan urusan saya. Urusan saya hanya melakukan peragaan yang sesuai dengan naskah yang saya pelajari, Anda yang rugi. Kenapa? Modal yang Anda keluarkan untuk dating kemari tak kan pernah kembali. Apapun keinginan Anda, lakukanlah. Konon itulah salam demokrasi.

SCENE 07:
(Combine with zoom in – Extremely Close up – Shot Number:07)
           
Demokrasi. Sebuah bibir. Senyum. Demokrasi. Diagnosis dari senyum dan bibir. Benarkah? Selalu mengundang Tanya untuk saya. Entah untuk Anda. Sebab musabab; sebuah bibir. Senyum. Tak mudah dikaitkan dengan diagnosis anda atau saya sebab term of reference masing-masing dari kita amatlah berbeda saat memainkan alat music, dalam sebuah orkes simponi. Konduktor sebetulnya tak terlalu penting, karena dia hanya merangkumkan koas kata dalam not balok yang tertulis baku sejak awalnya. Justru yang sangat diperlukan adalah nurani peranan dalam meng-konduk, yang sebenarnya sudah dimiliki oleh para pelaku music secara individu.
            Maaf. Kalau dalam ruangan ini ada seorang konduktor, mohon saya dimaafkan. Saya sekedar membuat studi alternative dalam berpikir. Missal, saudara, kenapa kita sebagai mahluk manusia harus selalu dipimpin leadership. Apakah kita meniru laku dari sekelompok hewan? Atau memang kita sama dengan hewan?. Leadership? Sebuah pertanyaan yang menggelitik untuk disiasati. Digali, dikaji, ditelaah, tanpa chaos, dapatkah? Karena bahaya laten dari chaos sama dengan bahaya laten manipulative, pada masa perubahan system ke sistem, orang dikejutkan dengan akronim tindakan negatif.

SCENE 08:
(Combine with zoom out – Medium shot – shot number: 08)

            Tindakan negatif yang disebabkan oleh person to person or group to the group sangat tak efisien untuk perkembangan sel-sel positif, dari genre badak hitam, misalnya, untuk dikembangkan menjadi badak putih. Begitulah juga sifatnya dalam pengembang biakan unsure sel positif dan unsure sel negatif sebagai keseimbangan daya hidup mahluk bersel dalam tatanan sistem alam yang terbuka secara oral. Lihat saja. Planet-planet, akibat dari inti positif dan negatif dalam satu poros berlawanan justru mencipta daya atawa keseimbangan antar planet. Nah, bayangkan saja jika sistem daya antar planet sudah tak saling berinteraksi akibat salah satu unsure positif dan negatif yang berlebih. Fatalisme akibatnya.
            Mengacu pada: sebuah bibir, senyum. Untuk menemukan misteri yang tersurat dan tersirat, diperlukan diagnosis awal dulu sebagai fundamental sistem beragam sel tadi. Tetapi, bukan berarti kita membentuk mereka memiliki sifat fundamentali, berbahaya, akan terjadi kefatalan. Mengapa? Karena bertentangan dengan ekosistem. Bahaya, saudara. Bahaya. Bahaya. Oleh karena itu jangan sekali-kali kita membentuk inti sel bersifat fundamentalis. Tetapi, biarkan sel itu hidup dan berkembang bersama alam dan sifat-sifatnya. Daya hidup kita kini akibat adanya Inti Hidup. Alam adalah guru yang terbaik.

SCENE 09:
(combine shot – shot number 09)

            Hehehe…. Anda masih disitu. Masih menikmati pertunjukan kebohongan ini. Kenapa? Anda menunggu terbukanya tabir: sebuah bibir. Senyum. Hihihi… celaka. Anda sudah terlibat dalam lingkaran sugesti keaktoran saya. Padahal saya Cuma berlagak aktor. Bukan saya aktor sebenarnya. Andalah aktor dalam hidup Anda. Anda adalah kreator pertunjukan saya. Bayangkan jika Anda tidak ada di hadapan saya. Jika Anda tidak eksis menikmati pertunjukan saya. Ngapain saya di sini!? Lebih baik saya pulang, bikin mie instant di gubuk saya yang indah mungil dan ceria. Hmhmhm…. Dan si cantik di pangkuanku itulah hari-hari pergumulan yang nikmat, cumbu canda yang nikmat dengan simungil kucingku tersayang. Dia blasteran anggora dan kucing liar. Matanya menyalak birahi kalau aku dating bawa roti bakar. Maaf. Dia tidak terbiasa makan sembarang. Karena dia termasuk golongan indo. Karena penggolongan macam itu, maka: Sebuah bibir, senyum. Tak juga ditemukan diagnosis dari penyebabnya, kan!?
            Itulah kalau kita belum menjadi pohon yang berakar kuat, diterpa angin sepoi saja sudah porak poranda, jebol sampai ke akarnya. Kenapa hal itu sampai terjadi? Karena kebodohan. Kebodohan siapa? Manusia yang sok tahu, sok kuat, padahal buta malam dan siang, tak tahu bagaimana menanam pohon yang baik dan kuat.
            Celaka! Lihat! Barisan itu. Barisan warna-warni dan compang-camping. Lihat. Lihat. Atribut itu. Lihat! Saudara. Lihatlah. Ribuan orang akibat pembodohan berbaris dengan yel-yel kekalahan. Karena mereka dibekali oleh kemenangan. Kemenangan yang menyedihkan akibat pembodohan oral. Atribut-atribut kultus itu adalah pembunuhan akal sehat. Akal sehat yang disempurnakan oleh system anarki berpikir.
            Kultus adalah puyer obat sakit kepala yang dibeli untuk saya, Anda, massa or the people. Ohoi! Saudara, jangan. Jangan mau dibodohi oleh petualang-petualang itu. Mereka pialang saham bagi generasi gagap. Rentenir kemapanan. Tutuplah kuping kalian. Tutup. Jangan kasih kesempatan padanya untuk eksis meski rambut mereka yang manapun. Jaga. Jaga. Berkaca kita. Berkaca. Jangan biarkan debu retorika anarki mengotori kita. Mari, saudaraku, bergandengan tangan. Menjaga peradaban nurani bening bersama sang waktu.

SCENE 10
(Medium Close up – Shot Number:10)

            Scream!!! Gegap gempita dari kebudayaan gagap jika dihubungkan dengan: sebuah bibir. Senyum. Maka kita akan melihat ujud dari kompleksitas peradaban komunikasi konteksnya dengan revolusi budaya berpikir mahluk manusia dalam kisah kasih mencapai ambisi individu membentuk kelompok menjadi masyarakat populis terlahirlah chaos dari sana. Tak perlu dibayangkan. Bagaimana Revolusi Perancis, Rusia, Nazi dan isme-isme yang melingkup revolusi di mana pun meski berwajah system ke system sekali pun. Tak lain hanya mendiagnosis: Sebuah bibir. Senyum. Tak peduli chaos melanda bagai badai Taifun, menerkam sesama, mastodon menjadi pahlawan berwajah Arjuna, membentuk daya pikir robotik mengembangkan isme-isme yang bernas, cantik, giur dan membuat sesama mahluk manusia kompetitif. Sakral memicu libido keberingasan kekuasaan dalam frame of reference: The Freedom for Humanism.
            Hahaha…. Akulah mastodon berwajah Arjuna yang selama ini membelut kemelut dalam system-sistem. Inilah aku, inilah wajahku. Lihat saudara, lihat. Lihatlah. Meski aku tahu sejarah tentang revolusi itu dari potongan buku loakan, tapi aku harus sok tahu, aku harus sok beradab, aku harus sok bermoral, aku harus sok ilmiah, aku harus sok beristilah, meski dalam beristilah sepotong kamus kecil selalu di sakuku. Itulah aku, sang Arjuna. Mastodon yang berkeliaran. Merayap dalam gelap bersama isme-isme buatanku sendiri, isme yang aku contek dari buku-buku para sejarawan, antropolog, sosiolog, politikus, negarawan dan log dan kus dan wan-wan, yang sudah mati. Aku hidup dari referensi mereka yang sudah mati. Karena aku tidak pernah punya kesempatan beranalog dengan pikiran-pikiranku yang jernih. Mereka melecehkanku, karena aku bukan mereka dan tak seperti mereka. Aku. Anjing kurap, busuk dan bodoh. Tapi karena kini aku menjadi mastodon yang mulia, penguasa kegelapan. The Prince of The Darkness. Akulah Devil’s Advocate. Siapapun aku, apapun aku, sudah jadi tai!

            (meraung sejadinya. Bergerak. Meronta. Meratap. Menatap. Tertawa. Semakin gila. Menjadi gila. Menangis. Terbahak-bahak. Meledak-ledak. Suara-suara. Derap berderap, menggelora. Birahi membara. Kemudian gelegar. Kemudian sepi, hanya senyap, hanya kidung, hanya gumam, hanya desah, resah, gelisah, intuisi, naluri).

Posting Komentar

 
Top

Powered by themekiller.com